Perlahan-lahan, dia menghampiri. Tidak mahu mengejutkan sahabatnya secara terperanjat, maka dihulurnya salam , "Assalamualaikum , Fariq . Jauhnya berjalan . Dah sampai mana ? Korea ?"
"Eh, Furqan . Waalaikumsalam . Takde,la. Baru sampai Lahad Datu je."
Furqan tersengih . "Bagus sahabat aku ni, cakna isu-isu semasa."
Fariq tersenyum. "Dari mana?"
"Baru habis meeting Daurah Baitul Muslim untuk minggu ni. Kau daftar tak nama untuk daurah ni?"
Fariq hanya menggeleng.
"La, pasai apa tak hantaq nama? Nanti aku masukkan nama kau ea ?"
"Eh, taknak,lah. Tak payah, tak payah susah-susah ea....aku malas, la . Takde mood nak cerita pasal ni."
"Hm, maaf. Kau ada masalah ke, Fariq? Tak nak share dengan aku?"
"Aku ditolak." Perlahan Fariq menuturkannya.
"Apa dia? Aku tak dengaq."
" A-ku-di-to-lak."
"Serius?"
"Muka aku ni macam muka tengah buat lawak,ke?"
"Sorry, sorry . Tapi siapa yang tolak kau? Sakit tak? Kau jatuh kat longkang mana?"
"Kau ni pun, tembak aku bertalu-talu dengan peluru soalan. Kalah perempuan."
Furqan tersengih . Dia memang sangat cakna dengan sahabatnya yang seorang ni. Sahabat yang merangkap sepupunya sendiri.
"Dey, aku gurau, je la. Aku kan penglipur lara kau . Aku faham la maksud kau ditolak tu. Tapi siapa yang tolak jejaka hensem dan soleh macam kau ni?"
"Haha, hensemlah sangat! Soleh,la sangat! Kalau kau , aku setuju . Soleh, hensem , kaya ...macam-macam ada.."
"Alhamdulillah, kau pun apa kurangnya. Merendah diri pula..Habaq,mai la siapa dia?"
Tunduk. Fariq malu sebenarnya mahu memberitahu kisah penolakan itu kepada Furqan. Namun, digagahkan juga bibir menyebut nama muslimat yang menolaknya.
"Hm...nama dia Fatimah Sufiyyah."
Furqan sedikit terkejut. Fatimah? Allah, aku minta maaf Fariq . Monolog Furqan di dalam hatinya.
"Kenapa diam?" Fariq bertanya .
"Hm, berat pula rasa nak bagitahu kau pasal ni...."
"Kenapa? Kenapa? Kau dah taqdim Fatimah ke?"
"Allah, mana ada . Aku belum fikir masak-masak soal Baitul Muslim ni. Cuma, aku nak bagitahu kau, Fatimah tu dah dirisik muslimin lain."
"Mana kau tahu, Fur?"
"Aku kan spy..haha, takde,lah. Aku rapat dengan muslimin tu, sahabat baik kita, la. Tapi, aku harap tak rosak ukhuwwah kau dengan dia disebabkan seorang muslimah."
"Aku redha, Fur. Pasti ada hikmah. Siapa orangnya? Bagitahulah, aku boleh terima, insyaALLAH."
" Ridhauddin ." Ringkas Furqan membalas .
"Allah......" Hanya itu yang mampu dibalas Fariq.
"Kenapa, Riq?"
"Kau nak tahu, waktu aku melamar Fatimah, Ridhauddinla yang aku ajak untuk temankan aku. Bukan aku tak nak ajak kau, tapi waktu tu, kau balik rumah. Takpe,la. Bukan rezeki dan jodoh aku . Dan,aku tak anggap pun ni macam kes tikam belakang kawan, sebab pilihan ada pada Fatimah."
" Alhamdulillah, aku harap kau tak down sebab soal ni....Allah masih beri kita peluang yang banyak untuk kita perbaiki diri sebelum bergerak ke arah itu. Bukan soal sedia atau tidak, yang penting kau sudah berusaha. Bunga bukan sekuntum, kan?"
"Ya, sayang . Tapi, kumbang bukan seekor juga ."
Mereka gelak .
" Meh, sini abang sayang, aku nak bercerita pasal Salman Al-Farisi."
"Sayang, wek!! Nak mutoh ambo dengar..."
"Ala, tak payah nak muntah sangat,la..."
Kisahnya....................
_______________________________________________
Salman al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang berasal dari Persia. Salman sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mencari cahaya kebenaran. Kegigihannya berbuah hidayah Allah dan pertemuan dengan Nabi Muhammad saw di kota Madinah. Beliau terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu dalam perang Khandaq.
Berikut ini adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh hati dari seorang Salman Al Farisi: tentang pemahamannya atas hakikat cinta kepada perempuan dan kebesaran hati dalam persahabatan.
Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah, pelamaran.
Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.
”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”
Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.
Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan. Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah saw dengannya. Bukanlah seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya.
“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil hikmah dari kisah Salman ini.[zilzaal]
Nota hamba : Pernah ditolak ? Sakit bukan?
Tapi, lebih perit jika cinta kita pada Allah ditolak !
Orang kata, jatuh cinta lebih sukar dan pedih berbanding jatuh longkang.
Tapi, jatuh kita kerana cinta nafsu itu lebih tersangat pedih rasanya!
Ini bukan disebabkan mood final year , tetapi disebabkan ramai yang diuji dengan cinta .
That's why I chose to write about this.
Yakinlah, ditolak pertama kali mungkin sebab Allah nak bagi yang lebih baik!
:: Dan, buatmu sahabat, i'm happy for you!"::
Bila nak nikah? Soalan tu memang akan ditanya berulang kali ke, especially untuk final year student?
Nikah bukan main-main, penuh dengan tanggungjawab!
h.a.m.b.a
030313
20 Rabiulakhir 1434 H
Berusaha mengumpul koleksi buku UPMJ.

0 ulasan:
Catat Ulasan